Uji Screening Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) Menggunakan Antibiotik Cefoxitin (fox) 30 µg Pada Pasien Penderita Abses Gigi di Klinik BPJS Mataram

Yuliana Tri Risky, Agrijanti Agrijanti, Nurul Inayati

Abstract


Salah satu bakteri penyebab infeksi pada manusia adalah bakteri Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) pada pasien penderita abses gigi di klinik BPJS Mataram. jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis, adapun pengertian dari metode deskriptif analisis adalah suatu metode yang berfungsi untuk mendeskripsikan atau memberikan gambaran terhadap objek yang diteliti. Berdasarkan hasil pemeriksaan pada 10 sampel swab abses pada gigi diperoleh 3 sampel yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, kemudian dilanjutkan dengan uji sensitivitas untuk mengetahui adanya bakteri Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) dengan menggunakan antibiotik Cefoxitin (fox) 30µg diperoleh hasil sensitif antibiotik untuk ketiga sampel. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah tidak ditemukan bakteri yang resistant terhadap antibiotik Cefoxitin (fox) 30 µg pada pasien penderita abses gigi di klinik gigi BPJS Mataram.

Keywords


Staphylococcus Aureus; Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA); Abses gigi; Antibiotik

Full Text:

PDF

References


Biantoro, I. 2008. Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA)(Tesis).Universitas Gajah Mada. Yogyakarta. 20 pp.

Dailey YM, Martin MV. Are Antibiotics Being Used Appropriately for Emergency Dental Treatment. British Dental Journey 2001;7:391–393.

Iqbal, M., Putra, H., Suwarto, S., Loho, T., & Abdullah, M. 2014. Faktor Risiko Methicillin Resistant Staphylococcus aureus pada Pasien Infeksi Kulit dan Jaringan Lunak di Ruang Rawat Inap.

Kemenkes. 2012. Pedoman Paket Dasar Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Puskesmas, Kementerian Kesehatan RI.

Nurani, L. W., Soleha, T. U. and Ramadhian, M. R. 2018. Potensi 7-O-Butylnaringenin sebagai Antibakteri pada Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) Antibacterial Potential of 7-O Butylnaringenin Against Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus ( MRSA ). 7(1). pp. 182–186.

Nurkusuma, D. 2009. Faktor yang Berpengaruh Terhadap Metichillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) pada Kasus Infeksi Luka Pasca Operasi di Ruang Perawatan Bedah Rumah Sakit Dokter Kariadi Semarang. (Tesis). Universitas Diponegoro. Semarang. 28 pp.

Permenkes 2011. Pedoman Umum Penggunaan Antibiotik. Peraturan Menteri Kesehatan NO 2406/MENKES/PER/XII /2011. pp. 4.

Rahmi, Y. et al. 2015. Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus Pada Preputium dan Vagina Kuda (Equus caballus). Medika Veterinaria. 9(2). pp. 154–158.

Sjahril, R. and Agus, R. 2018. Deteksi Methicillin-resistant Staphylococcus Aureus (MRSA) Pada Pasien Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Dengan Metode Kultur. (April). pp. 15–21.

Wasitaningrum, I. D. A. 2009. Uji resistensi antibiotik Staphylococcus aureus dan Escherichia coli dari isolat susu sapi segar terhadap beberapa antibiotik. Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta

Surakarta. pp. 0–29.




DOI: https://doi.org/10.32807/jambs.v6i2.140

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 


Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) 2656-2456 Kampus A Poltekkes Kemenkes Mataram, Jurusan Analis Kesehatan, Jl. Praburangkasari Dasan Cermen Sandubaya Mataram.