Pengaruh Cara Pengambilan Darah Kapiler Terhadap Kadar Glukosa Darah Sewaktu Pada Penderita Diabetes Melitus

Wiodi Nazhofatunnisa Umami, Siti Zaetun, Ari Khusuma

Abstract


Penggunaan darah kapiler untuk pemeriksaan glukosa darah sewaktu metode POCT sangat membantu penderita diabetes melitus dalam mengontrol kadar glukosa darahnya. Namun, seringkali penusukan yang kurang dalam menyebabkan darah yang keluar sedikit sehingga dilakukan pemijatan yang dapat mempengaruhi kadar glukosa darah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh cara pengambilan darah kapiler terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada penderita Diabetes Melitus. Penelitian ini merupakan penelitian Eksperimen dengan rancangan Quasi Experiment Design dengan sampel 16 orang yang dibagi menjadi 2 perlakuan. Hasil diuji dengan Independent Sample t-test atau Mann Whitney. Hasil penelitian menunjukkan rerata kadar glukosa darah sewaktu tanpa pemijatan jari tangan kanan pada penderita diabetes melitus yaitu sebesar 303,1 mg/dL. Sedangkan rerata kadar glukosa darah sewaktu setelah pemijatan jari tangan kiri pada penderita diabetes melitus yaitu sebesar 284,4 mg/dL. Hasil uji Mann Whitney menunjukkan nilai p = 0,290 > α =  0,05. Tidak ada pengaruh cara pengambilan darah kapiler terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada penderita diabetes melitus.


Keywords


Darah Kapiler; Glukosa Darah; Diabetes Melitus;

Full Text:

PDF

References


Akhzami, D. R., Rizki, M., & Setyorini, R. H. (2016). Perbandingan Hasil Point of Care Testing ( POCT ) Asam Urat dengan Chemistry Analyzer. Jurnal Kedokteran, 5(4), 15–19.

Decroli, E. (2019). Diabetes Melitus Tipe 2. (A. Kam, yanne pradwi Efendi, garri prima Decroli, & A. Rahmadi, Eds.) (1st ed.). Padang: Pusat Penerbitan Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Andalas.

Depkes. (2005). Pedoman Pemeriksaan Laboratorium Untuk Penyakit Diabetes Melitus. Jakarta: Departemen Kesehatan RI.

Emancipator, K. (1999). Laboratory Diagnosis and Monitoring of Diabetes Mellitus. American Society of Clinical Pathologists, (or IDDM), 665–674.

Indyanty, E., Rasyid, H. Al, & Thoyib, A. (2015). Pengaruh Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Perawat tentang Flebotomi terhadap Kualitas Spesimen Laboratorium. Jurnal Kedokteran Brawijaya, 28(3), 258–262.

Junker, R., Schlebusch, H., & Luppa, P. B. (2010). Point-of-Care Testing in Hospitals and Primary Care. Deutsches Aerzteblatt International, 107(33). https://doi.org/10.3238/arztebl.2010.0561

Kahar, H. (2006). Keuntungan dan kerugian penjaminan mutu berdasarkan uji memastikan kecermatan ( POCT ). Indonesian Journal of Clinical Pathology and Medical Laboratory, 13, 38–41.

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Pemeriksaan Kimia Klinik. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.

Kemenkes. (2010) Pedoman Pemeriksaan Kimia Klinik. Jakarta: Menteri Kesehatan Republik Indonesia.

Khasanah, U. (2016). Perbedaan hasil pemeriksaan hitung jumlah trombosit pada darah vena dan darah kapiler dengan metode tabung Skripsi. Universitas Muhammadiyah Semarang, 49.

Laisouw, A. J., Anggaraini, H., & Ariyadi, T. (2017). Perbedaan Kadar Glukosa Darah Tanpa dan Dengan Hapusan Kapas Kering Metode POCT. Jurnal Universitas Muhammadiyah Semarang, (September), 661–665.

Maola, A. Y. I., Sukeksi, A., & Ariyadi, T. (2019). Perbedaan jumlah lekosit darah vena dan kapiler menggunakan pengenceran dalam tabung. Karya Tulis Ilmiah, 2–3.

PERKENI. (2011). Konsensus Pengelolaan dan Pencegahan Diabetes Melitus Tipe 2. Jakarta: Perkumpulan Endokrinologi Indonesia.

Purwanto, A. P. (2009). Simpasium Manajemen Laboratorium. Semarang.

Subiyono, Martsiningsih, M. A., & Gabrela, D. (2016). Gambaran Kadar Glukosa Darah Metode GOD-PAP ( Glucose Oxsidase – Peroxidase Aminoantypirin ) Sampel Serum dan Plasma EDTA ( Ethylen Diamin Terta Acetat ). Jurnal Teknologi Laboratorium, 5(1), 5–8.

Sujud, Hardiasari, R., & Nuryati, A. (2015). Perbedaan Jumlah Trombosit Pada Darah EDTA yang Segera Diperiksa dan Penundaan Selama 1 Jam di Laboratorium RSJ Grahasia Yogyakarta. Medical Laboratory Technology Journal, 1(5069), 508–508. https://doi.org/10.1136/bmj.1.5069.508-a

Yamin, G., Trisnawati, E., Yusnayanti, L., Santoso, W. N., Indrati, Santoso, W., … Sidik, N. A. (2004). Pedoman Praktek Laboratorium yang Benar (Good Laboratory Practice). Jakarta: Direktorat Laboratorium Kesehatan Departemen Kesehatan.




DOI: https://doi.org/10.32807/jambs.v6i1.122

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2019 Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS)

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.

 


Jurnal Analis Medika Biosains (JAMBS) Poltekkes Kemenkes Mataram, Jurusan Analis Kesehatan
Jl. Praburangkasari, Dasan Cermen, Sandubaya, Mataram.

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.